Bersama Untuk BELAJAR Demi Kemajuan Dan Kehidupan yang Lebih BAIK

gif 1

13.2.11

Hikmah Maulidur Rosul MUHAMMAD S.A.W.



Maulid Nabi Muhammad adalah hari yang sangat mulia bagi umat Islam. Bukan hanya mulia di sisi manusia, tapi juga mulia di sisi Allah. Allah memberikan kemuliaan kepada umat ini melalui Nabi Muhammad. Karena Allah mengutus Nabi Muhammad kepada umat ini, sehingga umat ini pun menjadi mulia.

Allah melipatgandakan pahala-pahala amalan umat ini lebih dari umat yang terdahulu. Pada umat terdahulu, jika ada yang berbuat kebaikan satu maka pahalanya tidak berlipatganda. Tapi untuk umat Nabi Muhammad, pahalanya bisa menjadi 10 kali lipat, bahkan bisa sampai 700 kali lipat. Walaupun umat yang terakhir, tapi Allah memberikan kemuliaan kepada umat ini menjadi umat yang pertama masuk surga setelah para nabi dan rasul.
Jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu yang umurnya ratusan tahun bahkan ribuan tahun, tapi umur umat ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah adalah antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit yang melewati itu. Tapi, dalam umur yang sedikit dan singkat itu, Allah menggantikan dan memberikan pahala sesuai dengan umur-umur umat terdahulu. Contohnya, jika beribadah pada malam lailatul qadar, beribadah dalam semalam tapi diberikan Allah pahala ibadah 83 tahun, walaupun umur kita misalkan baru sampai 20 atau 30 tahun.
Rasulullah mengatakan, bahwa Allah memberikan di muka bumi ini di mana saja tempat yang suci, maka bisa dijadikan sebagai tempat salat. Kalau umat terdahulu, maka tempat ibadahnya khusus di suatu tempat, tidak boleh di luar itu.
Untuk umat Islam, jika tidak ada air, maka tanah dan debu bisa digunakan sebagai tayammum. Ini hanya khusus untuk umat Nabi Muhammad. Dan mu’jizat yang diberikan adalah Alquran. Pada umat terdahulu, semua nabinya mempunyai mu’jizat. Tapi ketika nabinya wafat, maka selesailah mu’jizatnya. Tapi bagi umat Islam, mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad masih ada hingga sekarang, bahkan hingga hari kiamat. Mu’jizat itu adalah Alquran. Walaupun Rasulullah sudah wafat, tapi Alquran masih ada, dan Alquran itu tetap cocok untuk setiap zaman dan seluruh manusia.

Setiap umat Islam yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ia tak hanya mengingat Allah dan Rasul-Nya di hari maulid saja, kemudian setelah hari maulid dia lupa dengan Rasulullah. Seharusnya, Rasulullah ada di hati kita setiap waktu dan setiap saat. Kita selalu mengingat dan mengerjakan sunnah Nabi Muhammad, menjalankan ajaran Allah dan Rasul-Nya, serta menjaga perintah Allah dan Rasul-Nya.
Jadi kita harus menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Rasulullah di hari maulid dan di luar hari maulid, setiap waktu dan setiap saat. Karena itulah, Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk banyak bershalawat kepadanya.
Sabda Rasulullah:
Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan di malam Jum’at.

Para ulama menjelaskan, bahwa Rasululah meminta kita bershalawat kepadanya bukan hanya di malam Jum’at dan di hari Jum’at, melainkan kita harus dan wajib setiap hari bershalawat kepadanya. Pada hadis tersebut disebutkan, bahwa malam Jum’at dikhususkan untuk memperbanyak shalawat. Kalau pada hari biasa 100 kali bershalawat, maka pada malam Jum’at dan hari Jum’at harus lebih banyak lagi.
Ada seorang sahabat Rasulullah yang bertanya kepada Rasulullah:
“Ya Rasulullah, saya suka berzikir dan berdoa, serta mengerjakan amalan-amalan lainnya. Berapa banyakkah seharusnya saya mengkhususkan bershalawat kepadamu? Apakah seperempat waktu zikir saya khususkan untuk bershalawat kepadamu?”
Rasulullah mengatakan, “Boleh, kalau kamu tambah lagi, maka itu baik buatmu.”
”Ya Rasulullah, saya mengusahakan setengah waktu untuk bershalawat kepadamu.”
”Itu baik. Tapi jika kamu menambah lagi, maka itu baik untukmu.”
”Ya Rasulullah, saya bershalawat kepadamu setiap saat dan setiap waktu.”
Kata Rasulullah,”Kalau kamu mengisi waktu banyak bershalawat kepadaku, maka Allah akan mengangakat kesusahan dan kesulitanmu, dan Allah akan menghapuskan dan mengampuni seluruh dosamu.” (H.R. Thabrani, Baihaqi, dan Imam Ahmad dalam musnadnya).
Para ulama menjelaskan, bahwa setiap manusia dan setiap muslim mengharapkan tidak ada kesusahan dan kesulitan di dunia ini. Kalau di akhirat dia mengharapkan datang di hari kiamat ia tidak membawa dosa.
Para ulama mengatakan, bisa mendapatkan dua kemuliaan itu melalui shalawat kepada Nabi Muhammad.
Rasulullah bersabda:
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku setiap hari dan setiap malam sebanyak 10 kali, maka akan diberikan syafaatku kepadanya.

Apakah artinya 10 kali? Itu sangat sedikit sekali dari waktu sehari-hari kita. Tapi dalam hal ini Rasulullah hanya meminta 10 kali, tapi kita tidak mau melaksanakannya. Atau kadang kita membaca 100 kali di hari maulid, tetapi setelah itu selama setahun tak pernah lagi bershalawat.
Semestinya sebagai umat Islam, kita menjadi orang yang selalu menempatkan Rasulullah di hati kita. Bukan pada hari tertentu saja, namun setiap waktu dan setiap saat kita selalu ingat Rasulullah.

Kejadian saat kelahiran Rasulullah
Muncul di langit satu bintang, namanya adalah Najmu Ahmad (Bintang Ahmad). Ini adalah salah satu tanda di Taurat. Di Taurat juga termaktub mengenai sifat-sifat Rasulullah. Seperti yang termaktub di Taurat disebutkan, ketika Rasululah lahir ke dunia, maka akan muncul bintang di langit. Bintang itu dinamakan oleh orang Yahudi sebagai Najmu Ahmad (Bintang Ahmad).
Ketika itu, di Mekah tidak ada orang Yahudi. Orang Yahudi adanya di Madinah dan Syam. Mereka melihat munculnya Bintang Ahmad di langit, sehingga mereka semuanya senang dan membawa kabar gembira kepada yang lain bahwa sudah datang nabi yang mereka tunggu-tunggu. Sebenarnya orang Yahudi berharap, bahwa Nabi yang akan datang itu adalah dari kalangan Yahudi (Bani Israil). Tapi ternyata Allah menjadikan Nabi Muhammad dari Bangsa Arab, sehingga kemudian mereka sangat membenci Nabi Muhammad.
Selama mengandung Nabi Muhammad, tidak ada rasa lelah pada Aminah (ibunya Rasulullah), ia seperti sedang tidak hamil. Bahkan ketika melahirkan Nabi Muhammad pun, tak ada perasaan lelah itu. Di dalam mimpinya, Aminah melihat cahaya, yang di sisi cahaya itu terlihat istana-istana yang ada di Syam (Syiria) yang dimiliki oleh Kisra (Raja) Persia. Ini adalah sebagai tanda, bahwa nantinya Islam akan sampai ke tempat tersebut.
Ketika Rasulullah lahir, tali pusatnya sudah terpotong. Ini adalah di luar kebiasaan. Biasanya, bayi yang baru lahir itu masih ada tali pusatnya. Ada juga riwayat yang menceritakan, ketika Rasulullah lahir, dia duduk seperti sedang sujud, tapi kepalanya ke atas melihat langit, dan dia bersandar dengan tangannya.
Pada masa itu, ada api yang sangat dihormati oleh orang-orang Majusi. Ketika Rasulullah lahir, api yang tak pernah mati itu kemudian mati seketika, padahal telah sekian lama api itu selalu menyala. Ada juga danau yang bernama Danau Sawaa, yang airnya begitu dimuliakan oleh orang-orang Majusi. Ketika Rasulullah lahir, air danau tersebut tiba-tiba kering.
Ada 14 teras Istana Kisra Persia jatuh tiba-tiba ketika itu. Para tentara Kisra Persia tentunya terkejut melihat hal tersebut. Hingga dikumpulkanlah para orang pintar mereka, kemudian diceritkaan hal tersebut. Menurut para cerdik pandai mereka, bahwa itu merupakan pertanda telah lahir seorang nabi, dia akan membawa agamanya ke negeri tersebut (Persia). Disebutkan pula oleh cerdik pandai tersebut, bahwa nabi tersebut dan para pengikutnya akan membunuh 14 orang raja dari turunan Kisra.
Kejadian setelah Rasulullah dilahirkan
Ketika Rasulullah lahir, ayahnya (Abdullah) telah meninggal dunia. Setelah dilahirkan, Rasulullah pertama kali disusui oleh Thuwaiba (pembantu pamannya Rasulullah yang bernama Abu Lahab). Setelah itu barulah Halimatus Sa’diyah yang menyusui Rasulullah.
Allah menjadikan Rasulullah sebagai seorang yatim. Kalau memang Allah memuliakan dan mencintai Rasulullah, mengapa Rasulullah ketika lahir sudah dijadikan sebagai anak yatim?
Hikmahnya Allah menjadikan Rasulullah sebagai seorang yatim supaya tidak ada yang mempunyai hak terhadap Rasulullah. Sehingga yang mendidik Rasulullah bukanlah orang tuanya, melainkan Allah yang langsung mendidiknya. Dengan dijadikan yatim, maka tak ada yang membela Rasulullah, tak ada yang menjaganya, tak ada yang memuliakannya, sejak kecil hingga diutus menjadi nabi, kecuali hanya Allah yang menjaga dan membelanya. Sehingga jangan sampai ada yang mengatakan, bahwa Muhammad menjadi nabi karena diajari oleh orang tuanya. Rasulullah pernah bersabda:
Allah yang mendidikku dengan didikan yang sangat suci dan mulia.
 
Sudah menjadi kebiasaan di negeri Arab, yaitu ketika bayi lahir ke dunia, maka dipelihara dan dididik di luar kota, yaitu di daerah padang pasir. Hal ini karena di kota banyak penyakitnya dan kelemahannya. Sehingga memang sengaja bayi-bayi yang baru lahir itu dikirim ke luar kota. Terkadang orang Badwi yang berasal dari luar kota datang dari luar kota mencari anak di Mekah yang perlu disusui untuk dibawa ke tempat mereka.
Halimatus Sa’diyah ketika itu datang bersama suami dan anaknya. Mereka naik unta yang sudah sangat tua dan sering sakit. Dengan kondisi unta yang seperti itu, perjalanan Halimah menjadi tersendat-sendat dan lambat hingga selalu tertinggal dari rombongan. Halimah dan keluarganya ketika itu dalam keadan sangat susah dan miskin. Keluarganya hanya memiliki beberapa kambing yang kurus-kurus dan tak bisa menghasilkan susu.
Ketika sampai di Mekah, Halimah langsung mencari anak yang mau disusui. Rombongannya dari Bani Sa’ad juga melakukan hal yang sama. Ketika Nabi Muhammad ditawarkan, tak ada satu pun dari rombongan Bani Sa’ad yang mau menerima Nabi Muhammad yang masih bayi itu, karena Muhammad adalah anak yatim. Yang mereka cari adalah bayi-bayi yang berasal dari keluarga kaya dan masih memiliki orang tua.
Sementara yang lain mendapatkan bayi untuk disusui, sedangkan Halimah tidak menemukan bayi tersebut, kecuali tinggal Nabi Muhammad saja yang belum diambil oleh rombongan Bani Sa’ad. Suaminya mengajaknya pulang, karena memang sudah tak ada bayi yang bisa diharapkan untuk dibawa. Halimah mengatakan, mengapa tidak dibawa saja Nabi Muhammad yang masih bayi itu, siapa tahu mereka nantinya akan mendapatkan berkah. Suaminya tidak mau, karena keluarga Nabi Muhammad adalah keluarga miskin yang nantinya hanya akan membuat mereka (keluarga Halimah) repot. Tapi tetap saja Halimah bersikeras untuk membawa Nabi Muhammad. Akhirnya, suaminya pun menyetujui. Kemudian, Nabi Muhammad pun dibawa oleh Halimah.
Di dalam riwayat (seperti dijelaskan oleh para ulama), bahwa walaupun Halimah juga sedang menyusui anaknya, tetapi air susunya sepertinya tak pernah kering ketika menyusui Nabi Muhammad. Padahal sebelum menyusui Nabi Muhammad, air susunya selalu kering, bahkan untuk menyusui anaknya sendiri pun tidak bisa.
Ketika perjalanan pulang, untanya juga menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Karena itulah, perjalanan pulangnya bisa lebih cepat, hingga orang-orang yang ada di dalam rombongannya heran akan hal tersebut.
Sesampai di kampungnya, ia ingin memberi makan kambing-kambingnya. Ketika ingin memberi makan kambing-kambingnya itu, dilihatnya ternyata kambing-kambingnya sudah menjadi gemuk, padahal kampungnya ketika itu sedang berada dalam musim kering. Orang-orang di kampungnya pun heran akan hal tersebut. Mereka mencari-cari tempat makan kambingnya Halimah. Setelah dicari-cari, ternyata tempat tersebut tidak mereka temukan.
Nabi Muhammad menyusu mepada Halimah selama dua tahun. Selama itulah, keluarga Halimah mendapatkan keberkahan karena memelihara Rasulullah. Setelah dua tahun dalam asuhan Halimah, maka dikembalikanlah Rasulullah kepada keluarganya. Tetapi sebenarnya Halimah juga berharap agar Rasulullah bisa lebih lama lagi dalam asuhannya. Namun karena memang sudah habis perjanjiannya, maka dikembalikanlah Rasulullah, walaupun memang Halimah masih menginginkan Rasulullah berada dalam asuhannya.
Halimah meminta kepada ibunya Rasulullah agar ia (Halimah) boleh kembali membawa Rasulullah untuk diasuh. Dengan berbagai alasan, Halimah mengungkapkan permintaannya itu kepada ibunya Rasulullah. Mengapakah Halimah masih mau untuk mengasuh Rasulullah? Hal kini karena ketika mengasuh Rasulullah, dia (Halimah) dan keluarganya mendapatkan kemuliaan, kekayaan, dan keberkahan dari Allah. Ia takut keberkahan itu akan hilang jika Rasulullah tidak lagi bersamanya. Akhirnya, karena Halimah selalu meminta seperti itu, maka ibunya Rasulullah pun membolehkan Halimah membawa kembali Rasulullah untuk diasuhnya.
Kemudian dibawalah Rasulullah oleh Halimah ke kampungnya lagi. Ketika Rasulullah berumur 6 tahun (ada juga riwayat lain yang mengatakan 8 tahun), terjadilah peristiwa pembelahan dada Rasulullah dengan tujuan untuk membersihkan hatinya. Waktu itu, ketika Rasulullah sedang bermain denga anak-anaknya Halimah, tiba-tiba muncul dua orang yang bercahaya, pakaiannya putih, dan bersayap. Ada juga riwayat yang mengatakan, bahwa itu adalah Malaikat Jibril.
Rasulullah dibawa oleh orang yang bercahaya dan berpakaian putih itu, kemudian dada Rasulullah dibedah (dibelah), diambil hatinya dan dibersihkan di air zam zam. Suatu riwayat menyebutkan, jantung Rasulullah dibuka, di sisi jantungnya ada dua ‘alaqah (daging hitam). Daging hitam itu diambil oleh malaikat, kemudian daging itu dibuang. Setelah itu, jantungnya dibersihkan dan disucikan menggunakan air zam zam dari surga, kemudian diletakkan lagi di tempatnya semula. Ketika Rasulullah dewasa, bekas-bekas pembedahan itu masih ada di dadanya.
Menurut riwayat yang lain menyatakan, setelah dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke tempat semula, Allah kemudian memerintahkan malaikat untuk menempatkan as-sakinah (ketenangan) di hati Rasulullah. Karena itulah, Rasulullah selalu tenang dan tidak bisa digoda oleh setan. Dua ’alaqah hitam yang ada di jantung Rasulullah yang kemudian dibuang oleh malaikat, itu sebenarnya adalah tempat setan untuk mengganggu manusia.
Mengapa Rasululah dari Arab? Karena pada saat itu, kemuliaan di seluruh dunia didapat oleh orang Arab. Rasulullah pernah bersabda di suatu hadis yang shahih. Disebutkan pada hadis tersebut, bahwa Rasululah meminta kita untuk mencintai orang Arab karena tiga hal: pertama, karena Islam. Kedua, Alquran. Ketiga, karena Rasulullah berasal dari Bangsa Arab.
Apakah yang dimaksud ”Arab” seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah tersebut?
Para ulama menjelaskan, bahwa Arab yang dimaksud itu adalah lisan Arab (lidah arab), bukan hanya keturunan Arab. Di dalam ajaran Islam, kemuliaan bukanlah berdasarkan keturunan. Yang mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Dijelaskan oleh para ulama, bahwa yang termasuk keturunan Arab adalah yang bisa berbicara menggunakan Bahasa Arab. Karena itulah, umat Islam disuruh mempelajari Bahasa Arab untuk bisa memahami agama, termasuk juga untuk memahami Alquran dan Hadis Rasulullah. Jadi, siapapun sebenarnya bisa masuk ke dalam golongan Arab yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya jika berbicara dengan Bahasa Arab.

Hikmah Maulid
Janganlah menjadi orang yang merayakan maulid cuma di hari tertentu saja, tapi di luar bulan maulid, kita kemudian lupa dengan Rasulullah, kita jauh dari ajaran dan sunnah Rasulullah.
Ingatlah, wasiat terakhir Rasulullah sebelum meninggal dunia adalah salat. Kalau orang tidak hadir maulid, apakah dia kemudian bisa dikatakan sebagai orang kafir? Datangnya kita ke acara maulid adalah untuk mendapatkan keberkahan dari Allah. Dengan menghadiri majelis semacam acara maulid, mudah-mudahan kita akan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad. Tapi di dalam Islam sudah jelas, bahwa orang-orang yang meninggalkan salat satu kali saja, maka seakan-akan orang tersebut telah menjadi kafir.
Jadi, orang-orang yang betul-betul mencintai Rasulullah adalah orang-orang yang bukan hanya mencintai Rasulullah di hari maulid, melainkan ia mencintai Rasulullah setiap saat, karena Rasulullah ada di dalam hatinya. Karena itulah, di mana pun ia berada, maka ia akan selalu mengingat Rasulullah. Orang-orang yang mencintai Rasulullah, maka ia akan selalu memperbanyak shalawatnya kepada Rasulullah. Sabda Rasulullah:
Perbanyaklah umatku untuk bershalawat kepadaku kalau berharap untuk mendapatkan syafaatku.
Pada peringatan maulid, kita berkumpul untuk mengingat Rasulullah. Mudah-mudahan kita bisa selalu mengingat Rasulullah, membaca dan mempelajari sejarahnya, memperbanyak shalawat terhadapnya, membaca Alquran dan mengkhatamkannya, serta menjalankan ajarannya.
Sumber : "Thenafi.w.c- Syekh Ali Shaleh"

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar